JejaringSumsel.com, Palembang – Pimpinan dan jajaran Komisi IV DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) meninjau langsung proses pembuatan kerangka Jembatan P6 Lalan di sebuah pabrik di Bekasi.

Peninjauan dilakukan menyusul insiden robohnya dua tiang pancang jembatan akibat ditabrak kapal tongkang batu bara.

Insiden terakhir terjadi pada 15 Februari 2026 saat jembatan masih dalam tahap perbaikan. Sebelumnya, pada 13 Agustus 2024, jembatan yang sama ambruk setelah dihantam tongkang batu bara dan menewaskan lima orang pemancing.

Peristiwa berulang ini membuat DPRD Sumsel memberi perhatian serius terhadap kualitas pembangunan ulang jembatan tersebut.

Ketua Komisi IV DPRD Sumsel, M Yansuri, menjelaskan kerangka jembatan dibuat bertahap dengan sistem per segmen sepanjang empat meter. Rangka utama memanjang mengikuti bentang jembatan dan menggunakan baja berkualitas tinggi.

“Kerangkanya dibuat per bagian, empat meter tiap segmen, memanjang sepanjang jembatan. Materialnya besi baja, belum termasuk lengkungan atasnya,” ujar Yansuri, Selasa (3/3/2026).

Baja untuk proyek ini dipasok oleh PT Krakatau Steel di Cilegon, Banten. Lempengan baja tebal tersebut kemudian dirakit di pabrik Bekasi sebelum dikirim ke Musi Banyuasin.

Setelah pondasi selesai di lokasi, kerangka baja akan dikirim melalui jalur laut dari Pelabuhan Tanjung Priok menggunakan tongkang. Kapal tersebut sekaligus membawa crane untuk proses pemasangan di lapangan.

Menurut Yansuri, pengiriman lewat tongkang dipilih karena di lokasi proyek tidak tersedia area penumpukan material yang memadai.

“Material dikirim bertahap karena ukurannya besar. Pekerjaan didahulukan pondasi, setelah itu baru rangka bagian atas,” jelas politisi Partai Golkar itu.

Saat ini sebagian kerangka telah selesai diproduksi dan sisanya masih dalam proses. Pengiriman menyesuaikan progres pembangunan struktur bawah jembatan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini